This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label SPORT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPORT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2011

Dubes RI: Blatter Tegaskan Nurdin Tidak Dapat Dicalonkan.

Penegasan Blatter ini dikeluarkan disela-sela pertemuan dengan dubes negara-negara ASEAN di markas FIFA.

Oleh Donny Afroni

8 Mar 2011 21:51:00

Indonesia - Nurdin Halid & Sepp Blatter
Galeri Foto
Perbesar
Indonesia - Nurdin Halid & Sepp Blatter

Terkait

Tim

Duta besar [Dubes] RI untuk Swiss Djoko Susilo mengungkapkan, presiden FIFA Sepp Blatter kembali mengeluarkan penegasan agar Nurdin Halid tidak dicalonkan sebagai ketua umum PSSI periode 2011-15.

Hal itu disampaikan Joko melalui teleconference dengan wartawan beberapa saat lalu. Djoko telah berbicara dengan Blatter disela-sela acara pertemuan pada dubes se-ASEAN dengan orang nomor satu di FIFA tersebut.

Menurut Djoko, pertemuan itu berlangsung selama hampir satu jam. Dalam pertemuan itu juga, pada dubes se-ASEAN ini membahas mengenai kemungkinan empat negara di kawasan Asia Tenggara menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030.

“Saya sudah berbicara dengan Blatter, dan mendapatkan jawaban tegas dari dia, yakni Nurdin Halid tidak dapat dicalonkan kembali pada kongres PSSI mendatang. Bila dicalonkan lagi, maka FIFA tidak akan mengesahkan hasil pemilihan itu,” ungkap Djoko.

“Blatter juga mengakui jika surat tahun 2007 itu memang ada. Tapi kemudian ada semacam kesepakatan di dalam internal FIFA, sehingga surat itu kemudian dimentahkan.”
Sumber : http://www.goal.com/id-ID/news/1390/pssi/2011/03/08/2385142/dubes-ri-blatter-tegaskan-nurdin-tidak-dapat-dicalonkan

Jumat, 18 Februari 2011

Jurnalis Amerika Serikat Mencalonkan Diri Menjadi Presiden FIFA.


Grant Wahl menyatakan bahwa ini saatnya melakukan perubahan di tubuh FIFA.

Oleh Tegar Paramartha

18 Feb 2011 13:27:00

Sepp Blatter (Getty Images)
Galeri Foto
Perbesar
Sepp Blatter (Getty Images)

Terkait

Dalam artikel di Sport Illustrated berjudul "It's time for someone to depose Sepp Blatter as FIFA's leader", jurnalis Grant Wahl mengumumkan bahwa dirinya berniat untuk mencalonkan diri menjadi Presiden FIFA.

Presiden FIFA saat ini, Sepp Blater, sedang mencalonkan diri untuk kembali menjadi Presiden untuk ke-empat kalinya, pada pemilihan pada tanggal 1 Juni mendatang. Wahl fokus mengkampanyekan dirinya sebagai 'orang luar' di tubuh FIFA, dengan slogannya 'Sembuhkan infeksi Blatter'.

Wahl juga meragukan kandidat Presiden lainnya yaitu Mohamed Bin Hammam dari Qatar yang merupakan 'orang dalam' FIFA. Dia meragukan keikutsertaan Hammam dapat menjegal Blatter meraih supremasi tertinggi di dunia sepakbola untuk ke-empat kalinya.

"Sudah lama mendengar fans di seluruh dunia protes kepada Blatter tetapi tanpa menyediakan alternatif untuk penggantinya. Dan tidak salah lagi, FIFA butuh perubahan," tulis Wahl di artikelnya.

Pemilihan Presiden FIFA akan dipilih melalui negara anggota, dimana setiap negara mempunyai satu suara. Agar Wahl dapat maju, maka satu negara anggota harus merekomendasikannya pada tanggal 1 April mendatang.

Berikut adalah janji yang ditawarkan oleh Wahl apabila dia terpilih menjadi Presiden FIFA periode berikutnya:

1. Pemutaran tayangan ulang apabila wasit ragu-ragu apakah bola telah melewati garis gawang atau belum. Agar tidak terjadi kesalahan seperti kasus Frank Lampard di Piala Dunia 2010.

2. Tidak ada pembatasan wasit per negara di Piala Dunia, untuk memastikan semua wasit terbaik ikut andil di kompetisi paling akbar tersebut. Dan para wasit juga diwajibkan menjelaskan keputusan-keputusan kontroversialnya kepada media usai pertandingan.

3. Mencopot baju saat merayakan gol tidak akan dikenai kartu kuning lagi.

4. Sekretaris Umum akan ditempati seorang wanita.

5. Semua dokumen internal FIFA akan dibocorkan kepada publik [seperti gaya Wikileaks] dan mengadakan investigasi eksternal untuk mencari tindak korupsi di tubuh FIFA.

6. Presiden FIFA akan dibatasi masa jabatannya, yaitu maksimal dua kali masa jabatan.

Minggu, 30 Januari 2011

Daftar Juara Piala Asia.

Dengan empat trofi, The Blue Samurai menjadi negara yang paling sering menjuarai Piala Asia.

Oleh Dede Sugita

30 Jan 2011 07:14:00

AFC Asian Cup Final - Australia v Japan (Getty Images)
Galeri Foto
Perbesar
AFC Asian Cup Final - Australia v Japan (Getty Images)

Terkait

Tim

Dari 15 kali penyelenggaraan AFC Asian Cup sejak 1956, ada tujuh negara yang sanggup menjadi juara. Timnas Jepang mengukuhkan diri menjadi yang terbaik di Benua Asia setelah meraih gelar keempat dengan mengandaskan Australia 1-0 via gol perpanjangan waktu Lee Tadanari, Sabtu (29/1).

Di bawah Tim Samurai Biru, ada Arab Saudi dan Iran dengan koleksi tiga trofi, disusul Korea Selatan (2 gelar), serta Israel, Kuwait, dan Irak yang sama-sama punya satu piala.

Berikut daftar lengkap juara ajang empat tahunan yang menjadi lambang supremasi tertinggi sepakbola di Benua Kuning:

Tahun    Tuan rumah        Juara    
1956HongkongKorea Selatan
1960Korea SelatanKorea Selatan
1964Israel *)Israel
1968IranIran
1972ThailandIran
1976IranIran
1980KuwaitKuwait
1984SingapuraArab Saudi
1988QatarArab Saudi
1992JepangJepang
1996Uni Emirat ArabArab Saudi
2000LebanonJepang
2004CinaJepang
2007Indonesia-Malaysia-Thailand-Vietnam **)   Irak
2011QatarJepang

Ket:   *) Israel pindah ke UEFA sejak 1994
         **) Tuan rumah bersama


Distribusi gelar:

Negara           Total juara      Tahun         
Jepang4 kali1992, 2000, 2004, dan 2011   
Arab Saudi3 kali1984, 1988, dan 1996
Iran3 kali1968, 1972, dan 1976
Korea Selatan     2 kali1956 dan 1960
Israel1 kali1964
Kuwait1 kali1980
Irak1 kali2007
Lalu, apa prestasi terbaik timnas Indonesia di Piala Asia? Well, dari empat keikutsertaan beruntun sejak 1996 sampai 2007, Tim Garuda masih mentok di fase grup. Tapi tak ada salahnya jika kita berharap dapat menyaksikan Tim Merah-Putih menjadi Raja Asia suatu saat nanti.
http://www.goal.com/id-ID

Jumat, 28 Januari 2011

Beda Nurdin Halid, Andy Gray dan Richards Keys. Sepak Bola Untuk Semua.

Menentang keras kritik dan cemooh kepada asisten wasit wanita Sian Massey.

Oleh M Yanuar F

28 Jan 2011 11:36:00

EPL,Female assistant referee Sian Massey,Wolverhampton Wanderers vs Liverpool(Getty Images)
Galeri Foto
Perbesar
EPL,Female assistant referee Sian Massey,Wolverhampton Wanderers vs Liverpool(Getty Images)

Terkait

Mendengar dua komentator televisi Sky Andy Gray dan Richard Keys, prihatin sekali rasanya. Dengan cuap-cuap yang tidak dipertanggungjawabkan, kedua sosok ternama di kalangan media Inggris itu merendahkan kapabilitas Sian Massey, asisten wasit 1 untuk Laga Liverpool kontra Wolverhampton beberapa waktu lalu.

Secara tidak langsung, diskriminasi sudah mereka tunjukkan. Keduanya seakan menegaskan jika sepakbola adalah olahraganya kaum Adam, dan semua yang bercokol didalamnya adalah mereka keturunan Adam, bukan Hawa.

Tapi, mereka lupa bahwa jika nilai dan inti utama dari sepakbola adalah mengenyahkan perbedaan dan menghilangkan batasan diskriminasi juga SARA (jika konteksnya Indonesia).

Sepakbola menurut saya adalah alat pemersatu, pembuat perdamaian dan semua hal positif. Lihat saja ketika Korea Utara dan Korea Selatan berduel di Piala Asia 2011 kemarin. Tidak terlihat adanya ketegangan meski negara asal mereka saling mengancam melakukan agresi militer.

Di Irak lebih hebat lagi, kaum Sunni, Syiah, Kurdi bersatu untuk mendukung timnas mereka di kancah sepakbola dunia. Ketegangan pun akhirnya lenyap dan digantikan dengan kegembiraan bersama. Sepakbola memang ajaib.

Tapi, jika ada sejumlah pihak yang berniat merusak kegembiraan ini, dengan membuat perkara, baik mengejek dengan nada rasis, menjalankan organisasi dengan bungkus politik, atau kekerasan yang tidak sama sekali bersumber pada kaidah fair-play, maka semuanya harus didepak.

Untuk nada bersikap ejekan, Andy Gray dan Richards Keys sudah meminta maaf dan dengan legawa mengundurkan diri karena sudah membuat kesalahan fatal. 

Sementara dalam hal menjalankan organisasi sepakbola dengan bungkus politik, tidak kredibel, minim prestasi dan banyak korupsi, seperti yang sering dikabarkan di media massa, ada sosok di kancah sepakbola Indonesia yang tidak menyadari jika selama rezimnya berjalan, tidak ada satu pun kontribusi positif yang diberikan, namun menolak untuk mundur. Memprihatinkan.

Andy Gray dan Richard Keys mungkin sudah menyadari jika sepakbola adalah milik semua orang, termasuk kaum hawa. Tapi untuk sosok yang ini, yang dari Indonesia itu, sepertinya lupa jika sepakbola Indonesia bukan miliknya sendiri, sehingga dia bisa berbuat semena-mena terhadapnya.

Ingat kawan, sepakbola itu milik semua...., bukan hanya milik segelintir orang dengan kepentingan tertentu hanya untuk mengeruk kesuksesan dan ketenaran sepihak.

Setuju...?
http://www.goal.com/id-ID

Rabu, 26 Januari 2011

EKSKLUSIF Alfred Riedl: Tanya-Jawab Tentang PSSI, U-23, LPI, Irfan Bachdim, Syamsir Alam & Boaz Solossa.

Inilah tanggapan Alfred Riedl tentang isu-isu terhangat di sepakbola nasional!

Wawancara oleh Bima Prameswara Said

26 Jan 2011 16:36:00

Alfred Riedl - Indonesia (GOAL.com/Donny Afroni)
Galeri Foto
Perbesar
Alfred Riedl - Indonesia (GOAL.com/Donny Afroni)

Terkait

Tim

Figur

Di sela-sela Kongres Tahunan PSSI di Tabanan, Bali, akhir pekan lalu, Chief Editor GOAL.com Indonesia Bima Said berkesempatan menemui pelatih timnas Indonesia Alfred Riedl di Warung Made, Seminyak. Pelatih yang sedang menyiapkan tim Garuda Muda jelang Pra-Olimpiade dan SEA Games itu ditemani deputi bidang teknis BTN Iman Arif dan manajer timnas U-23 Adjie Massaid. Suasana wawancara berlangsung santai, Riedl berbincang sambil menyantap makan malam nasi goreng spesial. Tidak lupa, sejumlah pertanyaan dari pembaca diajukan pula kepada pria asal Austria itu.

Goal.com: Bagaimana tanggapan Anda tentang acara tadi [Kongres PSSI]?
Riedl: Ini pengalaman yang baru bagi saya, unik karena di Austria tidak ada hal seperti ini. Biasanya jarang ada rapat. Saya tidak mengerti sepenuhnya apa yang disampaikan dalam presentasi ketua umum yang berlangsung tiga jam non-stop. Saya juga memperhatikan ada beberapa orang yang menahan rasa kantuk bahkan ada beberapa anggota tertidur.

Goal.com: Bagaimana kesan-kesan Anda tentang pemain-pemain muda Indonesia selama seleksi U-23 berlangsung?
Riedl: Secara keseluruhan sudah bagus, masih ada beberapa kekurangan di timnas Pra Olimpiade, yang jelas kami harus latihan keras supaya tim lebih solid menjelang SEA Games. Saya yakin anak-anak ini bisa semakin baik.

[Deputi Bidang Teknis Iman Arif menambahkan, "Kami akan menyiapkan ujicoba melawan klub lokal pada awal Februari, lalu pada minggu kedua melawan Australia (Western Regional) atau Hongkong U-23. Kami mengutamakan Hongkong, agar bisa menyesuaikan diri dengan situasi iklim dan cuaca di Ashgabat, Turkmenistan."]

Goal.com: Turkmenistan saat ini rangking 133 di FIFA, tidak terlalu jauh dari Indonesia yang menempati urutan ke-126. Bagaimana Anda menilai Turkmenistan?
Riedl: Turkmenistan adalah lawan yang tangguh. Sebagian dari pemain-pemain yang akan dihadapi adalah pemain-pemain sama yang pernah mencapai final AFC Challenge Cup 2010, ketika kalah dari Korea Utara melalui adu penalti. Tapi di Asian Games 2010, tim U-23 mereka sudah mengalahkan Vietnam 6-2 sebelum kalah tipis dari Thailand [1-0 lewat perpanjangan waktu] pada babak 16 besar.

Goal.com: Banyak yang masih menanyakan tentang Irfan Bachdim yang batal seleksi U-23. Terdapat dua argumentasi. Pertama, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng menilai ada Program Indonesia Emas (PRIMA) yang dirancang sebagai Peraturan Presiden untuk Olimpiade dan SEA Games. Di dalamnya terdapat izin, seorang pemain dapat dipanggil melalui federasi yang menaunginya atau penunjukan langsung oleh pelatih. Selain itu, kabarnya Philip dan James Younghusband akan tetap dipakai timnas Filipina meskipun pindah ke Liga Primer Indonesia (LPI) nanti. Mereka akan membela Jakarta FC 1928 mulai Maret mendatang. Bagaimana menurut Anda?
Riedl: Saya terikat kontrak di bawah PSSI. Secara pribadi, saya tidak ada masalah dengan LPI atau Irfan Bachdim, tapi yang memberikan saya pekerjaan adalah PSSI, dan kalau mereka mengatakan saya harus memilih pemain dari liga yang direstui mereka, saya tidak punya suara. Saya bisa leluasa di dalam lapangan, dan hal-hal yang terjadi di luar kadang sulit dikontrol. Saya harus mematuhi peraturan ini karena saya di bawah PSSI, meskipun saya ingin mendatangkan Irfan dan Kim [Jeffrey Kurniawan] ke dalam skuad U-23. Kita juga jangan menilai Irfan adalah satu-satunya pilihan. Anda perhatikan pada Piala AFF? Dia bermain baik dalam dua pertandingan awal, tapi untuk pertandingan penting melawan Thailand dan Filipina, performanya justru drop.

Goal.com: Bukankah itu disebabkan faktor nonteknis?
Riedl: Saya melihat kenyataannya saja, penampilan Irfan menurun waktu itu. Apakah disebabkan sorotan media atau acara-acara di luar, saya butuh bukti di lapangan. Sekarang dia ikut LPI dan saya khawatir akan semakin menurun. Seorang pemain hebat akan menurun kualitasnya apabila bermain di liga manapun dengan level permainan yang lebih rendah.

[Iman Arif menambahkan, "Pada waktu itu Badan Tim Nasional sudah menyampaikan undangan resmi kepada Irfan maupun Kim. Kami menunggu pada hari pertama seleksi tapi mereka tidak muncul. Padahal keduanya siap ditampung. Kim diketahui memang masih cedera tapi kehadirannya tetap ditunggu sebagai bukti dia mau bergabung ke timnas. Sayangnya dia tidak datang."]

Goal.com: Apakah tadinya terdapat pemain lain dari LPI yang bisa dipertimbangkan untuk bergabung ke timnas U-23?
Riedl: Tadinya hanya Irfan yang ikut seleksi. Kim juga belum tentu dipilih karena dia belum bermain, belum 100 persen fit.

Goal.com: Bagaimana penilaian Anda terhadap Syamsir Alam?
Riedl: Luar biasa! Dia pemain hebat. Memang pada waktu itu [hari pertama seleksi 7 Januari 2011] dia mengalami cedera. Tapi saya melihat dia selama tiga atau empat jam sudah cukup untuk mengetahui potensinya. Syamsir Alam punya bakat yang bagus, sangat kuat dan postur di atas rata-rata untuk seorang pemain Indonesia, dan skills bagus. Mungkin saat ini masih terlalu muda, tapi kita bisa mempertimbangkan lagi 1-2 tahun ke depan. Dia wajib menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari Uruguay dan mencari pengalaman bertanding sebanyak-banyaknya. Selanjutnya dia akan menjadi pemain profesional, kemudian kita lihat saja nanti.

Goal.com: Tapi apakah Anda masih di sini tahun depan?
Riedl: Tergantung hasil di SEA Games nanti, kita harus meraih emas. Kalau tidak, saya mungkin lebih baik kembali ke Austria.

Goal.com: Boaz Solossa belakangan ini bersinar di Persipura.
Riedl: Ya, saya masih memantau dia.

Goal.com: Apakah Anda akan mempertimbangkan Boaz untuk kembali memperkuat timnas?
Riedl: Saya tidak perlu mempertimbangkan apapun karena saya akan memanggil dia lagi. Biarkan dia terus bermain di klubnya [Persipura], saya perlu dia membuktikan segalanya di atas lapangan, dan suatu saat akan dipanggil ke Jakarta, tapi saya perlu dia menjaga kedisiplinan di dalam maupun luar lapangan. Kalau melenceng lagi, saya akan kembali coret dia. Tapi yang jelas dia masih diberi kesempatan.

Goal.com: Bagaimana tanggapan Anda tentang politik yang berada di dalam lingkungan sepakbola Indonesia?
Riedl: Tidak peduli.

Goal.com: Apabila Anda sudah bekerja keras untuk menghasilkan sesuatu yang baik, tapi orang lain mengakui itu justru kerja kerasnya dia, bagaimana reaksi Anda?
Riedl: Saya memahami betul maksud Anda. Terus terang saya tidak akan suka, tapi di sisi lain saya juga tidak butuh pujian, jadi saya tidak akan mempermasalahkannya. Saya terus bekerja untuk mendatangkan prestasi.
http://www.goal.com/id-ID

Keren...Boaz Ditawari Berkarier Di Eropa. Semoga Saja.

Sedang dijajaki kemungkinan Boaz Solossa dilirik VVV Venlo.

Oleh Agung Harsya

26 Jan 2011 16:32:00

Boaz Solossa - Persipura Jayapura (GOAL.com / Dhedhe D.)
Galeri Foto
Perbesar
Boaz Solossa - Persipura Jayapura (GOAL.com / Dhedhe D.)

Terkait

Tim

Figur

Seperti dilansir Radio Nederland, promotor sepakbola Indonesia-Belanda Ruud Voll bersedia menjembatani Boaz Solossa jika ingin berkarier di negeri Kincir Angin itu.

Voll mengaku sedang memfasilitasi pendekatan Boaz dengan klub Eredivisie, VVV Venlo. Rekam jejak dan video permainan Boaz bersama Persipura Jayapura serta ketika mencetak gol ke gawang Uruguay dalam laga uji coba timnas Indonesia, Oktober lalu, sedang dipelajari.

"Boaz memiliki naluri penyerang yang hebat dan juga pemberani untuk menerobos pertananan lawan serta mencetak gol. Saya kira VVV membutuhkan pencetak gol ulung seperti dirinya," tukas Voll.

Voll mencontohkan ketika VVV merekrut pemain tak ternama dari Jepang, Keisuke Honda, dan berhasil mengubahnya jadi salah satu pemain muda bersinar di Eropa sebelum bergabung ke CSKA Moskwa.

"VVV mendapatkan Honda dengan harga tidak sampai sejuta euro dan setahun kemudian direkrut CSKA denga nilai transfer sembilan juta euro. Lihat saja hasilnya," sambung pria yang pernah mendatangkan Irvin Museng ke akademi Ajax Amsterdam itu.

"Sekarang tinggal menunggu VVV. Kalau tertarik, Boaz bisa langsung datang dan menjalani tes. Tapi saya tidak heran kalau Boaz bisa loncar dari VVV ke Ajax Amsterdam atau bahkan liga Spanyol."

"Boaz striker terbaik Indonesia saat ini. Kalau dia bisa membobol gawang Uruguay, dia juga bias menembus jala Ajax."
http://www.goal.com/id-ID

Selasa, 25 Januari 2011

Inilah Delapan Peserta Nike Academy!

Delapan pemain muda memasuki gerbang profesionalisme dengan meraih tiket Nike Academy.

Oleh Agung Harsya

25 Jan 2011 14:33:00

Arsene Wenger (Nike)
Galeri Foto
Perbesar
Arsene Wenger (Nike)

Terkait

Tim

Setelah melalui putaran final Nike The Chance akhirnya ditemukan delapan pemain yang akan mengikuti Nike Academy mulai Juli mendatang.


Salah satu peserta putaran final yang berlangsung pekan lalu di London, Inggris, itu adalah remaja Indonesia, Muhammad Guntur Triaji. Namun, bersaing dengan 99 peserta lain dari 39 negara, Guntur gugur di seleksi pendahhuluan. Hanya 32 peserta yang lolos ke babak berikutnya sebelum diperas lagi menjadi delapan peraih tiket emas Nike Academy.


Delapan peserta itu adalah: Mustapha Taline dari Prancis, Fabio Tonini (Belgia), Moon Seon-min (Korea Selatan), dan Tomas Rogic (Australia). Dua negara mengirim dua peserta, yaitu Britania Raya: Titi Accam dan Tobi Amokeodo; serta Afrika Selatan: Jonathan King dan Reyaad Pieterse.


"Dari pengalaman pribadi saya, seorang atlet akan berkembang dalam tingkat yang berbeda. Bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan untuk meraih level tertinggi dalam sebuah permainan adalah yang membuat program The Chance menjadi hebat. Program ini juga memberikan akses ke pelatihan terbaik dengan fasilitas serta program latihan tingkat dunia," ujar Giovanni vanBronckhorst yang menghadiri pengumuman final The Chance.

"Di samping kesuksesan delapan pemain terpilih, penting pula bagi setiap peserta mendapat sesuatu dari program ini dan mengalami perkembangan dalam hal kemampuan bermain mereka."


Manajer Arsenal Arsene Wenger yang menemani Van Bronckhorst menjelaskan kriteria pemilihan delapan peserta Nike Academy.

"Delapan pemain itu menunjukkan kemampuan teknik yang tinggi serta keinginan yang sangat kuat untuk berhasil di seleksi akhir," imbuhnya.

Program The Chance memberikan kesempatan kepada pemain muda di seluruh dunia untuk menunjukkan talenya serta mewujudkan impian menjadi pemain profesional. Delapan pemain terpilih akan mengikuti program Nike Academy hingga Mei 2012.

Nike Academy memberikan kesempatan kepada pemain muda yang belum dikontrak atau terikat dengan klub manapun untuk memasuki pintu profesionalisme dengan pelatih, program latihan, serta fasilitas kelas dunia.
http://www.goal.com/id-ID

Rabu, 19 Januari 2011

Ancaman FIFA Terhadap LPI Salah Sasaran, Sepakbola Indonesia Disorot


Sudah terlalu banyak masalah di Indonesia sehingga media internasional ikut menyoroti kondisi sepakbola Tanah Air...

Oleh Agung Harsya

19 Jan 2011 00:07:00

Supporter Indonesia (Dok. GOAL.com)
Galeri Foto
Perbesar
Supporter Indonesia (Dok. GOAL.com)

Terkait

Tim

Atas masukan dan melalui PSSI, FIFA memperingatkan agar penyelenggaraan sepakbola di Indonesia sejalan dengan otoritas resmi yang berlaku. Hal itu ditegaskan dalam surat resmi FIFA kepada PSSI yang sempat diragukan keabsahannya. Surat tersebut membahas perkembangan terkini sepakbola Indonesia, yaitu digelarnya Liga Primer (LPI) yang dinilai sebagai sebuah pembangkangan terhadap otoritas.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu perhatian GOAL.com edisi Internasional, yang merupakan 'ibu kandung' dari edisi GOAL.com lainnya. Tidak kalah dengan maraknya berita seputar bursa transfer musim dingin di Eropa, Ewan Macdonald dan pemimpin redaksi edisi Indonesia Bima Said mencoba menyuguhkan apa yang sebenarnya terjadi di dunia sepakbola Indonesia.

Latar belakang Ketua Umum Nurdin Halid mendapat sorotan. Ketika Nurdin memerintah PSSI dari balik jeruji karena menjalani tiga jenis tindakan pidana yang berbeda-beda mulai dari korupsi gula, distribusi minyak goreng, serta tuduhan pelanggaran impor beras; FIFA seolah-olah tutup mata.

Posisi Nurdin sebagai kader Golkar jelas menimbulkan tanda tanya tentang penegakan semangat FIFA yang memisahkan campur tangan politik di dalam sepakbola. Jika dilihat sumber pendanaan kompetisi sepakbola Indonesia yang mengandalkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), tanda tanya itu jelas kian besar.

Masalah lain adalah pembenahan sistem selama PSSI diperintah Nurdin. Kompetisi model baru dengan nama Superliga Indonesia (ISL) digelar sejak 2008, tetapi tidak banyak perubahan yang terjadi. Lebih jelas lagi, tidak ada peningkatan kualitas yang signifikan. Prestasi klub-klub Indonesia di kancah Asia memalukan.

Juara ISL 2008/09 Persipura Jayapura, dengan segala hormat, dibombardir lawan-lawannya di Liga Champions Asia 2010. Dalam enam pertandingan, Persipura kebobolan 29 kali atau rata-rata hampir lima gol setiap kali berlaga. Saat melawan wakil Cina, Changchun Yatai, Persipura dilibas sembilan gol tanpa balas meski mampu membalasnya di Jayapura.

Di tengah situasi stagnan, sepakbola internasional masih menganggap eksistensi Indonesia. Ketika FIFA menggelar World Cup Trophy Tour, Indonesia menjadi salah satu tempat persinggahan. Rombongan trofi Piala Dunia bahkan disambut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Januari tahun lalu. Hal inilah yang kemudian mendorong Pemerintah memerhatikan sepakbola nasional.

Melalui bantuan beberapa pihak, bulan Maret 2010 digelar Kongres Sepakbola Nasional dengan tujuan memperbaiki sistem. Ada tujuh butir Rekomendasi Malang dan PSSI diharapkan melaksanakannya. Tapi, tidak ada tanda-tanda itikad menjalankan.

Ketika timnas Indonesia gagal menjuarai AFF Suzuki Cup pada Desember, sorotan kembali mengarah pada PSSI. Di samping kekecewaan karena gagal menjurai turnamen meski tim-tim lawan tampil dengan kualitas yang cenderung tidak kompetitif, publik juga kesal atas manajemen penyelenggaraan turnamen yang kacau balau -- terutama masalah penjualan tiket.

Seakan tidak memiliki kesempatan sela, sepakbola Indonesia kembali marak oleh kontroversi. Upaya sekelompok klub memperbaiki mutu kompetisi dengan nama LPI ditentang keras oleh PSSI.

LPI menjanjikan model kompetisi profesional, dengan jadwal yang tidak berubah-ubah, skuad profesional penuh, serta pembagian pendapatan termasuk hak siar televisi yang menggiurkan. Hal ini malah mengundang kemurkaan PSSI. Pada perkembangannya, menyeret campur tangan FIFA dengan ancaman sanksi pengucilan di pentas sepakbola internasional.

Dalam suratnya, FIFA memberi mandat kepada PSSI untuk menghukum semua klub pembangkang. Sanksi dapat merembet kepada perangkat pertandingan serta para pemain yang terlibat di LPI.

PSSI memiliki segala kewenangan yang ada, seperti mandat dari FIFA dan satu-satunya otoritas sepakbola resmi yang mengelola sepakbola negeri ini. Tetapi, di tataran praktis, rezim PSSI saat ini tidak memiliki dukungan dari akar rumput. Dengan pindahnya tiga klub ISL ke LPI, terbukti PSSI tidak dapat menyediakan jawaban yang memuaskan terhadap penyelenggaraan kompetisi yang bersih dan profesional.

Mungkin saja dukungan FIFA dan sekjen Jerome Valcke kepada PSSI salah alamat. Betul, FIFA memiliki regulasi yang ajeg dan harus dipatuhi tetapi sepertinya pengurus PSSI sekarang bukan orang yang tepat menjalankannya.

Sekadar mengendalikan sepakbola di negerinya saja tidak cukup bagi sebuah federasi nasional, tetapi juga harus memiliki visi mengembangkan sepakbola berjangka panjang. PSSI sudah terlalu lama mengenakan kosmetik untuk menutupi boroknya selama ini: kejujuran pengurus, sportivitas kompetisi, serta pemanfaatan dana negara yang tidak transparan.

Penyelenggaraan LPI seperti puncak dari segala masalah di tubuh PSSI. LPI sendiri sebenarnya masih punya segudang pertanyaan, antara lain apakah klub peserta bertahan hingga akhir kompetisi atau tidak ataupun apakah kompetisi menjawab kerinduan masyarakat Indonesia akan sebuah industri sepakbola yang maju dan profesional.

Jika ingin bersikap adil, FIFA dapat menggerakkan otoritasnya untuk mengusut pengelolaan sepakbola yang dilakukan PSSI. Bagaimana dengan masalah buruknya kualitas lapangan? Bagaimana dengan kualitas wasit yang memprihatinkan? Bagaimana dengan keterlambatan gaji pemain yang terjadi dari waktu ke waktu? 

Jika LPI dianggap dapat memberi jawaban atas pertanyaan tersebut, pantaskah mereka dihukum? Mandat FIFA salah sasaran. LPI sepatutnya diberikan kesempatan menyelenggarakan kompetisi profesional tanpa harus diganggu ancaman, kecuali ada pihak-pihak tertentu yang ingin menonjolkan kekuasaan ketimbang masalah prinsip.

Untuk mengakses editorial yang dimuat GOAL.com edisi Internasional, klik di sini:


Demi kemajuan sepakbola Indonesia!
Sumber : http://www.goal.com/id-ID